Monday, July 13, 2015

Dougashima, Izu: A hidden gem with breathtaking view


Kawasan Izu itu terkenal dengan pantai berpasirnya. Saat musim panas datang, ribuan orang biasanya berbondong- bondong pergi kesana. Tapi ga banyak yang tahu kalau di sisi yang berbeda dari prefektur ini, di kawasan yang relatif sepi pengunjung, terdapat pantai berkarang yang ga kalah bagusnya.

Jalan- jalan ini merupakan trip lanjutan dari wisata onsen yang sudah saya tulis di post sebelumnya. Dari kota shizouka, saya dan 3 teman saya menuju Dougashima, sebuah area yang berbatasan dengan pantai di sisi sebelah barat kota Izu. Dan seperti biasa, drive trip, bro! Hehe.  Karena termasuk wilayah sedikit penduduk, memang sedikit banget busnya, apalagi kereta. Jadi saya saranin kalau mau kesini  ya pakai mobil.

Sayang banget saat itu cuaca mendung+hujan rintik- rintik. Jadi agak terhambat juga mobilisasi kita. Apalagi spot- spot wisata disini cocok banget buat hiking kecil- kecilan, mengingat track jalannya yang lumayan rapi dan pemandangan alamnya yang juga menawan.

Pertama kita pergi koibito mizaki. Sesuai namanya (koibito; kekasih, mizaki; tanjung. Silakan artikan sendiri keseluruhannya. Saya ga mau nulis disini abis kayaknya norak banget jadinya haha). Di observatorium desk di tepi laut, terdapat lonceng kecil. Katanya, kalau berdua dengan pacar kesini, terus bareng2 bunyiin lonceng ini, katanya cintanya tak akan terpisahkan (adoy bahasanya).

Menurut temen saya, kalo cuaca bagus Gunung fuji kelihatan dari sini. Karena seperti yang tadi saya bilang, saat itu cuaca cocoknya untuk bergalau ria (apalagi dateng kesini sebagai joblo hiks), jadi cuma awan hitam yang kelihatan di langit.

Ini kalau lagi cerah 

Ini keadaan sesungguhnya *nangis*


Love bell 
Dari sana kita menuju ke satu kawasan lagi, saya lupa namanya apa. Tapi disini bagussss banget. Orang- orang menyebutnya Matsushima versi Izu. Anyway, matsushima itu adalah kawasan pantai yang terkenal banget di kawasan sendai karena pemandangannya. Tapi kalau menurut saya, sebagai pelancong yang sudah pernah ke dua tempat tersebut, kayaknya istilah itu kebalik. Harusnya matsushima lah yang pantas disebut Dougashima-nya Sendai. Soalnya disini jauhhh lebih bagus dan tenang dari Matsushima yang memang sudah menjadi touristy.

Dougashima 

Menikmati suasana karang- karang dengan ferry



Nih kalau punya nyali, boleh manjat2 karang raksasa kayak temen saya

Atau pose kayak gini juga boleh. satu senti lagi bangun2 di alam kubur lol
 Sebelum melanjutkan perjalanan kita makan di restauran lokal.

Lunch menu saya. Ini namanya saya lupa haha. Tapi isinya udang dan tempura. 
Dari sini, kita bisa menikmati formasi karang- karang besar dan birunya air laut dengan ferry. Untuk itu, saya musti mengocek 1200 yen dari kantong. But it was totally worthy!

Selanjutnya, kita meneruskan perjalanan ke spot selanjutnya. And it was amazing as well. Tempatnya sepi dan tenang. Dan sakura belum rontok dari pohonnya. Saya rasa spot- spot kayak gini yang harus dikunjungi dari sekarang sebelum nantinya jadi terkenal dan banyak orang.



Sebenarnya masih ada beberapa spot yang kita belum pergi, tapi karena waktu yang terbatas, akhirnya kita memutuskan pulang. Butuh sekitar 2-3 jam perjalanan untuk mencapai kawasan Tokyo atau Tsukuba. Sekian pos kali ini. ☺   

Wisata Onsen ; Izu


Seperti kemarin, saya dan beberapa teman saya bulan april lalu akhirnya menyelesaikan tradisi kami; wisata onsen. Jeng jeng jeng jeng…..
Wisata onsen (hot spring) sudah menjadi budaya bagi bangsa jepang. Jadi ga heran, ga cuma kaum orang tua, dikalangan anak- anak muda pun pergi bareng- bareng bermalam di hotel yang menyediakan fasilitas onsen adalah hal yang normal.


Pertama, hal yang kita lakukan adalah menentukan kota yang dituju. Beberapa kota di Jepang memang terkenal dengan wisata onsennya. Tahun lalu kami pergi ke Atami dan kawasan Ibaraki Utara, maka kali ini kami ingin mencoba ke daerah yang berbeda : Izu, Prefektur Shizuoka.


Setelah menentukan tempat, hal selanjutnya yang harus dipertimbangkan adalah pemilihan hotel. Hotel adalah faktor yang paling penting dalam wisata onsen. Berbeda dengan wisata outdoor dimana  hotel terkadang cuma dijadikan tempat tidur saja, disini, sebagian besar waktu wisata biasanya dihabiskan di dalam hotel. Setiap hotel memiliki harga berbeda, tergantung fasilitas onsen yang mereka punya dan paket lainnya yang ditawarkan (misalnya makan malam, breakfast, dll).  Hotel, atau lebih tepatnya Ryoukan (japanese style hotel) pilihan kami jatuh kepada Kouyurou Ikawa. Namanya  memang  membuat lidah ngejelimet waktu ngucapinnya ;p


Ketika kami tiba di hotel, kami disuguhi welcome drink di lobby. kali ini, rasanya mirip2 kayak air tebu hehe.


Welcome drink yang rasanya kayak air tebu


Sebelum masuk kamar, seorang pegawai hotel menjelaskan paket apa saja yang kami dapat selama stay disana. Hotel kami memiliki dua macam onsen, onsen umum, yang bebas dimasuki kapan saja asal sesuai dengan jamnya, dan onsen privat, dimana setiap tamu boleh memilih satu dari beberapa tipe onsen. Untuk onsen privat, kami cuma bisa menggunakannya selama 2 jam. Pegawai tersebut memberikan jadwal jam berapa saja onsen- onsen private tersebut available.


Kamar hotel kami berupa washitsu (Japanese style). Jadi tidak ada bed dan meja rias seperti hotel- hotel lainnya.

Suasana kamar

Setelah beres- beres barang, kami menuju ke bawah untuk menyantap makan malam. Disini, tamu boleh menentukan jam makan malam, soalnya sistemnya set course, bukan prasmanan. Mereka biasanya mempersiapkan masakan sesuai dengan jam yang kita tentukan sebelumnya.


Kami mendapat sembilan menu makanan. Ketika tiba di restoran, beberapa makanan sudah disiapkan diatas meja.

Biasanya kita pakai baju tradisional jepang yang disediakan hotel selama stay disana. 

Makanan dinner kami


Grilled Tuna
Lalu tomato cheese datang.


Tomato cheese
Diikuti dengan sushi.

Sushi yang enaknya nendang banget!
Lalu Chawan-mushi

Biasanya saya ga suka chawan mushi, tapi kali ini lidah saya cocok. I can't say it's the best though..
Dan shabu- shabu yang kami tunggu- tunggu sudah matang...

Sup shabu- shabu dengan bakso ikan.

Tak lama kemudian, sang pelayan menyajikan sashimi dan makanan yang saya lupa namanya apa hahaha.

Sashimi yang disajikan secara wow, seperti rasanya ;s

Yang ini saya lupa namanya. Tapi rasanya kayak mozarella. Yang hitam2 itu jamur bakar. Rasanya sih maknyus. 
Lalu ditutup dengan pemanis; puding karamel dan strawberry cheese cake ;)

Hidangan penutup; puding
Sebelum lanjut, saya kasih penjelasan ya. Buat yang bertanya- tanya kenapa makanan kami munculnya satu- satu, itu memang sudah tradisi Jepang. Dan susunan makanan yang keluar pun ga asal- asalan loh, udah diatur sebaik mungkin. Misalnya, biasanya makanan yang menjadi pembuka itu menu yang menjadi andalan restoran tersebut. Teman saya yang pernah bekerja di restoran khas jepang (izakaya) pernah bilang,  sebisa mungkin menu pembuka dapat  memuaskan hati pelanggan semaksimal mungkin. Menu kedua, biasanya makanan yang bisa mengisi perut, tapi ga terlalu berat. Biasanya berukuran kecil (bahasa gaulnya sekali caplok haha), contohnya sashimi, sushi. Saya ga bisa menjelaskan lebih detail disini soalnya kepanjangan. Nanti kapan- kapan saya buat pos khususnya.

Kenapa saya repot- repot sampai nulis begitu? Soalnya bro, berdasarkan pengalaman pribadi menjadi guide orang Indonesia, bangsa kita tuh udah biasa sama makan sekali gebruk, dengan nasi sebagai pembuka. Nah biasanya dalam tradisi Jepang, nasi justru disajikan agak terakhir, saat perut udah setengah kenyang dengan lauk pauk. Kalau saya ajak tamu- tamu saya ke restoran tradisional Jepang, biasanya banyak yang protes nih. 'Mas nasinya kapan?' 'Mas kok sup duluan yang keluar?' 'Mas ga doyan ikan mentah, mau yang digoreng dong!' Eh buset bu, ngapain jauh- jauh kesini kalau mau ikan goreng, di warteg deket rumah saya banyak tuh.

Setelah perut kenyang, tibalah yang ditunggu- tunggu. Onsen time!!!


Ini onsen private kami.  Emang wah banget sih. Sayang waktunya cuma dua jam, coba bisa semalemen #ngarep



Mengerinkan badan setelah berendam

Onsen yang dengan kenyamanan tingkat maksimal hehe. Bikin betah ga mau keluar. 
Ohya, sebelum menutup pos kali ini, saya tampilkan menu makanan pagi kami. Intinya, saya puas banget sama fasilitas dan servisnya. Buat yang mau kroscek2, ini website ryoukannya. http://www.kouyurou-ikawa.jp/




Sudah dulu pos kali ini. Saya sarankan, kalau bujet dan waktu mencukupi, ga ada salahnya merasakan pengalaman wisata onsen.

Friday, July 10, 2015

Berjelajah Kota Mumbai ( Part 2)


Titik mula penjelajahan saya di kota Mumbai adalah  Church Gate Station. Setelah di part 1 saya menceritakan kisah bagaimana susah-tapi-seru-nya perjalanan ke sini, akhirnya saya bisa bernafas lega sedikit lantaran bisa keluar dari kereta dalam keadaan sehat walafiat tanpa kehilangan sepeserpun uang atau satu batang pun jari tangan (yakali bu…)

Sampai stasiun, saya kembali di hadapkan satu masalah. Jadi saya sebenarnya mau kemana? Haha. Di hape saya masih belum muncul sinyal sebatangpun. Saya benar- benar cuma bisa berpegang dengan selembar kertas putih yang berisi nama- nama tempat wisata di sekitar sana, yang dituliskan oleh petugas bandara tadi. Lokasi persisnya? Meneketehe…

Sebenarnya saya bisa saja panggil bajaj atau taxi dari sana, mengingat ongkosnya bahkan lebih murah dari Jakarta. Tapi, saya kasih satu saran, di india, jangan sampai kita terlihat bego di depan supir angkutan umum, soalnya bisa- bisa kita dibegoin benaran. Ada tiga kriteria sasaran empuk bagi para penipu yang berkedok supir bajaj. Pertama orang asing, kedua yang ga bisa bahasa Hindi, ketiga yang punya wajah orang kaya. Nah masalahnya kata teman India saya, saya memenuhi kriteria nomor satu dan dua (sialnya gak yang ketiga, cih). Sering saya mendapati diri saya dipasang harga semahal tiket kereta antar kota, padahal jarak yang ditempuh ga sampai 2 kilometer!  Semenjak itu, saya selalu cari tahu berapa ongkos normal untuk mencapai tempat tujuan saya. Tanya saja sama orang lewat atau bapak- bapak yang penjaga warung, mereka akan menjawab dengan ramah dan jujur.

Kali ini saya mendekati bapak stasiun. Bertanya beberapa tempat wisata disana, dan berapa kira- kira ongkosnya kalau naik bajaj. Bapak tersebut menjelaskan dengan ramah, meski kebanyakan dengan bahasa tarzan. Tapi okelah. Yang penting saya mengerti.

Ternyata katanya, tempat- tempat yang ingin saya tuju tidak terlalu berjauhan satu sama lain. ‘Mending kamu naik shared-taksi, paling cuma butuh 40 rupe (8000 rupiah).’ Saya mengangguk mantap dan mengucapkan terima kasih.

Keluar dari stasiun, mata saya langsung disuguhi beberapa bangunan tua bergaya eropa. Taksi- taksi berwarna kuning berjejer menunggu penumpang. Di India, taksi juga berfungsi sebagai angkot. Artinya, kita bisa share tumpangan dengan orang lain. Dan ongkosnya pun ga lebih mahal dari mikrolet!

Seorang supir taksi memanggil saya, menawarkan tumpangan. Saya bilang saya mau ke Chhatrapati Shivaji Terminus, atau CST. Setelah sepakat dengan ongkosnya, sekitar 40 rupee, saya masuk ke taksinya yang ternyata sudah di penuhi penumpang.

Karena saya duduk di depan, saya lumayan banyak ngobrol dengan pak supir. Dia mengaku kalau dia muslim. Waktu saya bilang “Asalammualaikum”, dia kaget terkagum- kagum. Saya bilang, saya juga muslim. Dia bingung sejenak. “You are good at joking,”katanya, lalu tertawa keras. Saya ikut tertawa, tapi menangis di dalam hati.  Sialan lo pak, jangan salah, sipit- sipit saya lancar baca ayat kursi tauk.

20 menit kemudian, akhirnya saya sampai di CST. Jangan bilang pernah ke Mumbai kalau belum mengunjungi Chhatrapati Shivaji Terminus. Stasiun tua yang merupakan salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO ini memang lebih dari sekedar tempat naik kereta. Stasiun ini didirikan pada tahunn 1878, dan dibutuhkan 10 tahun untuk menyelesaikan konstruksinya. Dengan design khas ala Victoria-gothics dan ukiran- ukiran serta relief yang begitu detail di setiap sudutnya, tak heran keindahannya menjadikan tempat ini menjadi salah satu spot favorit turis di Mumbai.

CST adalah salah satu warisan budaya UNESCO


Municipal Corporation Building yang bersebrangan dengan CST

Dari sana, saya menuju ke Gateway of India. Setelah bertanya sana- sini dan ditanggapi dengan gelengan akibat language-barrier, akhirnya saya ditolong oleh anak kecil. Asal tau aja, jangan pernah meremahkan kemampuan bahasa inggris anak- anak india. Mereka menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar di sekolah, tak heran anak- anak disini begitu lancar berbahasa inggris. Anak kecil tadi bilang, saya tinggal jalan sekitar 30 menit untuk mencapai Gateway of India, atau bisa juga naik bus umum. Akhirnya saya memilih berjalan kaki.

Rasa lelah setelah berjalan lebih dari 30 menit terbayar dengan keindahan yang saya dapat. Gateway of India, yang dibangun untuk menyambut kedatangan raja dan ratu Inggris pada awal abad 20, merupakan salah satu landmark yang wajib dikunjungi disini. Dengan design campuran Italia dan Gujarat klasik, gerbang tembok raksasa yang menjulang setinggi 25 meter ini terletak berhadapan langsung dengan pelabuhan Mumbai.   


Gateway of India. Salah satu favorit spot  wisata di Mumbai

Setelah itu, saya langsung berjalan balik menuju stasiun. Di tengah jalan, saya disuguhi beberapa bangunan tua nan indah seperti Taj Hotel, Rajabhai Tower, City Hall, sampai saya disuguhi keramaian tak wajar di salah satu sudut jalan. Ternyata bangunan yang dikerumuni adalah  penjara kota, dan katanya, masyarakat beserta puluhan reporter TV sedang menanti seorang actor Bollywood yang belakangan tersangkut kasus tabrak lari ; Salman Khan! Saya tadinya mau menunggu hingga kembaran saya datang ( silakan kalau mau muntah), tapi waktu yang mepet membuat saya bergegas berjalan meninggalkan kerumunan tadi.


Taj Hotel, yang bersebelahan dengan Gateway of India

Rajabhai Tower

Di dekat stasiun Church Gate, saya beristirahat sejenak di taman kota yang lumayan besar dan rindang, Cross Maiden Garden. Penduduk India, menurut saya, adalah orang- orang yang mencintai rekreasi taman. Disini taman tidak hanya berfungsi sebagai paru- paru kota, kita akan menemui keluarga dengan anak- anaknya bermain dan menggelar tikar di atas rumput.


Penduduk India adalah bangsa pencinta taman. 
Akhirnya saya sadar perut saya keroncongan. Dan akhirnya saya tiba di…Burger King!!! Jangan ketawa dulu. Jujur, salah satu yang saya ga tahan dengan India itu makanannya. Bukannya ga enak, tapi semuaaaanya…. cuma sayuran isinya!! Jangankan daging, telur saja susah dijumpai disini. Paling banter mungkin kacang atau jamur. India memang surga bagi vegetarian, tapi neraka bagi pencinta daging seperti saya. Alhasil? Saya menjadi langganan fastfood dadakan selama tinggal disini. Dalam seminggu saya bisa menyantroni KFC atau Pizza Hut lebih dari dua kali.

Selesai makan, saya membeli tiket kereta. Bersiap menjelajahi kembali kota Mumbai yang waktu itu panasnya membuat saya ingin mengenakan bikini saja. 



Sunday, June 7, 2015

Berjelajah di Kota Mumbai (Part 1)

Setelah hampir satu bulan tinggal di India, akhirnya saya berkesempatan mengunjungi kota Mumbai. Sebenarnya ini trip aji mumpung. Hari itu saya berencana pulang ke Jakarta melalui bandara internasional di kota tersebut. Penerbangan dijadwalkan jam 2 malam, sedangkan saya sampai Mumbai jam 7 pagi lantaran naik bus malam dari tempat tinggal saya di Gujarat. Daripada bengong seharian di Bandara, saya putuskan untuk berkeliling menikmati hiruk pikuk  kota tersebut.
Mumbai, atau Bombay, adalah kota besar yang menjadi pusat industri dan bisnis di India. Tak heran setelah turun dari bus, saya langsung disuguhi pemandangan jalan raya dengan padatnya kendaraan yang berlalu- lalang di atasnya.

Setelah turun dari bus, saya dihadapkan satu masalah, sinyal di ponsel saya tiba- tiba hilang! Eng ing eng….Padahal rencananya saya mau berjalan- jalan dengan menggunakan segala informasi dari website tripadvisor. Karena selama ini pun selalu bertumpu pada google map, tentu saja saya tidak memiliki peta atau buku travel mengenai Mumbai. Simpel kata, saya resmi menjadi anak hilang.  Mama tolong akuu!!!

Bingung harus kemana, saya memutuskan untuk ke bandara menggunakan taksi , sekalian berencana menitipkan koper besar saya disana. Dan dengan biaya 200 rupe (sekitar 40000 IDR) akhirnya saya bisa mencapai bandara mumbai. Jujur, pertama kali melihat bandaranya saya terperanjat terkagum- kagum. Desainnya sungguh modern, bangunannya megah, dan yang paling penting; Bersih! Kapan ya sukarno-hatta kayak gini!! Nanti kali ya tahun 2016 (tapi hijriah haha)


Mumbai International Airport

Selagi menitipkan koper, saya bertanya apakah mereka punya flyer berisi travel information, dan ternyata ga ada. Saya pun memberanikan diri menanyakan tempat- tempat apa aja yang bisa dikunjungi di sini. Untungnya, dua orang petugas bandara dengan ramahnya menuliskan untuk saya tempat- tempat yang mereka rekomendasikan dengan aksesnya untuk mencapai sana. Makasih ya mbak, mas….seenggaknya saya ga menjadi anak hilang lagi hehe

Mereka menyuruh saya menggunakan taksi dari bandara.  Tapi karena uang di kantong tidak mencukupi, saya memberanikan diri naik bus kota. Dengan bertanya sana sini, akhirnya saya, menunggu bus yang menuju stasiun terdekat. Ada seorang Ibu didekat saya yang juga sedang menunggu bus lewat. Kami berkenalan sejenak.

“Where are you from?”
“Indonesia. How about you?”
“I’m from Goa. You want to take a bus to Andari Station?”
“Yes..Andheri station”
“So do I. Lets find the bus together.”

Yeahhh…Saya bersorak  senang dalam hati. Waktu itu pertama kalinya saya naik bus kota, di Mumbai pula. Mendengar banyak copet dan kriminalitas yang terjadi di sana sebenarnya saya agak ngeri kalau sendirian. Terima kasih ya, Bu…uhuy..

Namun oh namun…ternyata si Ibu pun, karena berasal dari luar kota, agak ga kurang ngerti kota Mumbai. Di dalam bus dia malah tanya saya, ‘Tahu di mana turunnya, ga?’ Gubrakkk.. aduh si Ibu ini. Padahal kan saya kan bu yang harusnya nanya.

Untungnya, ada seorang bapak- bapak baik hati yang duduk di belakang kita, kebetulan dia juga mau turun di stasiun. ‘Nanti ikut saya aja’, katanya.

Sistem bus kota di Mumbai mirip kayak di Jakarta. Ada kondekturnya. Tapi bedanya, karena bus disini harus berhenti di halte bus (ga kayak Jakarta yang semau perut supirnya), ada tarif  yang sudah ditetapkan. Si kondektur mengukur tarif saya, ’18 rupee’, katanya. Saya keluarkan dari kantung 20 rupee, lalu saya menerima lagi 2 rupee.

Sekitar 20 menit, akhirnya kita sampai di stasiun. Lebih tepatnya di halte dekat stasiun, soalnya biar kepala sudah saya putar 360 derajat saya ga menemukann gedung yang mirip stasiun. Si bapak yang baik hati tadi bilang, ‘Stasiun ada disana, sini saya antar.’Kami berdua mengikuti bapak tersebut. Dalam lima menit kami sudah berada di depan bangunan besar. ‘So, this is the station. I hope you enjoy Mumbai.” Kata si bapak dengan ramah. Lalu ia berbalik pergi. Wuihh…tengkyu ya Pak. Bapak ganteng deh kayak Amitabachan.

Jajanan di dekat stasiun. Roti dengan gorengan
, tak ketinggalan dengan bumbu masalanya (teteeepp)


Setelah membeli tiket, saya dan si Ibu menunggu kereta. Dan ternyata lagi, si Ibu juga mau naik kereta yang sama. Dia akhirnya mengajari saya cara membeli tiket. Soalnya saat itu juga pertama kali saya naik kereta listrik di india. Biasanya di Gujarat kemana- mana saya naik bajaj hehe.

Andheri Station. Stasiun terdekat dari bandara. (Ga deket juga sih)


Dan oh my oh my… enam tahun saya di Jepang, dimanjakan dengan canggihnya sistem transportasi disana, akhirnya Tuhan mengijinkan saya melihat dunia yang berbeda. Setelah melihat keretanya saya… syok berat. Ternyata ga beda jauh sama KRL di Jakarta 10 tahun yang lalu. Saya melihat orang- orang berjubelan dan beberapa bergelantungan di pintu kereta yang terbuka.

Keadaan kereta di Mumbai, Ini masih belum ramai loh. 

Di setiap kereta pasti punya gerbong khusus wanita, yang saya tengok kayaknya jauh lebih lenggang daripada gerbong biasa. Akhirnya dengan berat hati saya bilang ke si Ibu, ‘Ibu kayaknya bisa naik gerbong khusus wanita, kalau gerbong biasa ramai banget lo bu.’ ‘Tapi kamu bisa sendiri?’ ‘Tenang aja bu . Saya bisa kok’‘Ya udah kalau begitu good luck ya..jangan nyasar.’ Saya menjawab ringan ‘Oke bu.’ Jujur padahal waktu itu deg- degan bukan main. Akhirnya saya berpisah dengan si Ibu, Sehat- sehat ya Bu. (sambil mengusap air mata)

Di dalam kereta sendiri, saya akhirnya sukses menjadi pepes manusia selama lebih dari setengan jam. Untungnya karena stasiun saya berada di paling ujung, setelah hampir 40 menit perjalanan, gerbong sudah mulai lenggang. Kendati terdapat beberapa bangku kosong, saya memutuskan berdiri di samping pintu yang terbuka, mencari- cari udara segar. Sekalian ‘menikmati’ pemandangan dari perumahan kumuh yang berada di sepanjang rel kereta.

Di hadapan saya berdiri seorang om- om. Usianya mungkin sekitar 30 tahun. Tertarik dengan wajah asia timur saya, dia menyapa saya. ‘Hi, where are you going?’ ‘To churchgate.’ ‘Me too. Where are you from?’ ‘Guess from where’ ledek saya. Mata laki- laki itu berputar. ‘Japan?’.’Wrong.’ ‘China.’ Saya menggeleng. ‘Korea? Or Thailand? Malaysia?’’No.’. ‘Ahh I think now I got the answer.’ ‘Seriously?’ Mata saya melotot, sangsi sekaligus berharap dia akan menjawab dengan benar. ‘Of course. You’re from…Nepal, rite? Hahahaha. Anyway, I’m very sorry about the earthquake’

Laut mana laut. Ingin saya bilang ‘ke laut aja lo pak’ tapi sayangnya di sekitar kami daratan semua.


‘I’m Indonesian.’ Akhirnya saya lelah dengan tebak- tebakan yang berujung sakit hati lantaran muka saya yang memang ga mirip melayu. ‘Ohh, this is your first time to Mumbai?’ Saya mengangguk. ‘Mumbai is a very big place. Yet it’s crowded. This is also your first time to ride the railway?’ Saya mengangguk lagi. ‘Then where do you stay here?’ ‘I plan to have one-day trip around the city before going back to my country. ‘ ‘So I guess you gotta go back to the airport in the evening?’ ‘Yes’. Ini om- om kepo banget, pikir saya.

Ternyata dia cuma mau kasih saran, kalau mau balik ke Anderi Station, lebih baik saya ambil line nomor satu dari churchgate station, soalnya kereta disana berhenti di Anderi sebagai tempat pemberhentian terakhir. Jadi saya ga perlu takut kelewatan. Dia juga bilang kalau bisa balik sebelum jam 5, soalnya setelah itu bakal rame banget. Saya berterima kasih atas sarannya. Sampai stasiun kami mengobrol banyak tentang sistem kereta disini yang pintunya masih terbuka, hingga tentang turnamen cricket yang sedang heboh- hebohnya saat itu (kalau kita bulutangkis, olahraganya orang india itu cricket).

Tak lama kemudian saya sampai di Church Gate station. Bersiap untuk menjelajahi kota yang ternyata,  penduduknya sangat ramah ini.



Thursday, May 14, 2015

CERITA (GA) PENTING DITENGAH GEMPA

Seumur hidup gw ga pernah berpikir apalagi bermimpi bakal terlibat dalam salah satu bencana terbesar abad ini. Well, gw pikir lo semua ga perlu dijelasin lagi tentang gempa dan tsunami yang melanda jepang tahun 2011 yang lalu. Bencana alam yang menghebohkan dunia ini membuat sebagian wilayah jepang utara bagian timur hancur akibat ombak raksaksa setinggi 6- 10 meter dengan kecepatan rambat gelombangnya yang hampir menyamai kecepatan pesawat terbang. Sampai sekarang 20ribu orang telah dikonfirmasi meninggal dunia dan diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah.

Hmm,,sudah ah. Sedihnya cukup sampai disini.
Sekarang mari kita ke inti ceritanya yang sama sekali tidak sedih namun tragis ini. 


Suasana kota sendai setelah gempa terjadi persis kayak gini
Dicomot dari http://www.asahi.com/photonews/gallery/tsunami/images/tsunami1005.jpg
Jiyuukan No. 7

Jadi, ditengah- tengah kejadian bersejarah itu, ada gw bersama temen gw bernama Robert, yang nyempil bagaikan upil. Nyusahin dan ga penting.

Kalo kita berdua dijadikan tokoh utama dalam cerita “Pertarungan Hidup dan Mati di Tengah Gempa”, maka setting awalnya adalah tempat Karaoke bernama Jiyuukan di kamar No. 7.
Ga keren banget kan? Gw sempet berharap ada di tempat yang lebih oke dan dramatis, misalnya lagi percobaan di lab, itu akan terdengar lebih intelek, atau di kereta lalu keretanya mogok dan kita terkurung selama beberapa jam karena gempa, semacem di film- film action hollywood. Atau mungkin adegan di atas bukit dengan melihat pemandangan Tsunami yang menggenaskan akan jadi setting yang sempurna.
(tapi kalo settingnya di tepi pantai, makasih deh. bisa2 ceritanya berakhir sampe disitu, terus gw jadi ga bisa nulis post ini dong!)

Kesimpulannya,tempat karaoke adalah setting gempa dan tsunami terburuk nomor dua setelah pantai

Syukur alhamdulillah kita berdua keluar dengan utuh dan selamat tanpa kehilangan satu jari pun, coba kalo kita meninggal saat itu juga. mungkin akan terjadi percakapan begini :

Ibu2 tukang gosip ( IITG) : Ibu anaknya saat gempa ada dimana? lagi ngapain?
Nyokap : di tempat Karaoke. Lagi nyanyi lagu Hot n Cold-nya Katy Perry 
IITG : sama siapa?
Nyokap : sama cowok berdua.
IITG : ......

Bisa dibayangkan gimana nantinya gosip2 jelek bakal beredar dan gimana nanti runtuhnya imej anak baik yang gw udah bangun bertaun2 di depan tetangga. Nyokap bokap pasti juga kecipratan malunya. Gw ga mau jadi anak yang mati durhaka. Nauzubillah min zalik!


Kombinasi doa Allah dan Yesus

Adegan yang paling dramatis ( mungkin kalau di film Transformer, bagian ini kayak saat si Shia laBeouf mati sesaat di pelukan Megan fox) adalah adegan 5 menit saling berpelukan di kolong meja kamar karaoke. Saat itu kita berdua berpegangan erat karena ketakutan melihat pertaruhan hidup mati didepan mata *nulis sambil muntah*    
Adegan nya mungkin kayak gini :
 ( *berdua lagi meringkuk dibawah kolong meja )

Robert : tach, ini gempanya kenceng banget. Ga berhenti2 pula. *ketakutan
Gw: bert, baca doa bert. Baca doa. Kita bakal selamat kok *ngomongnya sambil gemetaran*
Robert : tach...
Gw: kenapa???
Robert : kok lu masih megang mik sih. Masih mau karokean? Lagu katy perry nya belum selese tuh...
Gw: *langsung melempar mik*. Gw mau berdoa aja bert....

Dan dengan kombinasi duet maut paling yahut antara doa Allah dan Yesus, kita berdua selamat dari 5 menit mengerikan itu. Setelah gempa tersebut berhenti, kita mengikuti arahan mbak2 karokeannya buat kabur keluar secepatnya.


Tentang Karma Selembar Syal

Walaupun udah berhasil lolos dari ruang karoke, ada 1 masalah besar ; gw meninggalkan laptop dan dompet, dan robert meninggalkan jaketnya di kamar tersebut.

Robert : haduhh tach...lo ngapain lari duluan tanpa liat2 barang sih....
Gw: sori brow, abis gw panik banget
Robert : terus ngapain lo bawa2 syal HnM?

Oiya, ya. Gw ga habis pikir kegoblokan gw, bagaimana mungkin gw membawa syal HnM yang nilainya cuma 100ribu perak tapi malah meninggalkan laptop dan dompet yang nilainya jutaan.   

Gw : terus kenapa lo bisa ketinggalan jaket??
Robert: ya itu gara2 lo yg kabur duluan ga jelas. *sambil menggigil karena kedinginan ( wajar aja sih, waktu itu dia cuma make t-shirt lengan pendek di tengah suhu luar musim dingin yang berkisar 5 derajat )

Gw semakin merasa bersalah. 

Robert: Dingin banget nih bro...
Gw: ya iyalah. Lu cuma pake kaos gtu.
Robert: eh, pinjem syal lu dong...

Yeee...tadi lu marah2 kenapa gw malah ngambil syal. Sekarang minta. 

Namun karna gw ga mau memperkeruh suasana, dan karena gw itu orang berhati mulia, maka gw kasih pinjem syal berbentuk kain itu.
Dan gw pun teringet percakapan tadi pagi di kamar robert, tepatnya saat kita ganti baju sebelum jalan keluar.

Robet: lu ngapain pake2 syal segala. Mesos abis cuy!
Gw : dingin tauuu *alesan doang. padahal cuma pingin gaya*
Robert; mending lo lepas deh. Rebek ngeliatnya. 
gw : Bodo amat. Ya jangan dilihat lah. 

Gw ketawa ngakak saat ingetin percakapan tersebut ke robert.

Robet: buseett...kok gw jadi karma gini sama nih syal. Untung lo ga dengerin kata2 gw tadi pagi tach...
gw: ember. Akhirnya syal gw menyelamatkan nyawa lo kan? Haha
Robert :ya iya sihh...*sambil menyilangkan tangannya ke dada yang silemuti syal HnM karna kedinginan.
gw: eh bert...
Robert; kenapa tach?
Gw: gaya lo...kayak abis diperkosa

Tapi si robert ga mau mendengar nasihat gw, dan sepanjang ke-chaos-an di tengah kota sendai sehabis gempa gw harus rela ditemani oleh seorang cowok ceking berkaos yang membungkus bagian atas badannya pake syal. Ditengah kepanikan gempa, orang2 yang lewat ngeliatin kita penuh curiga...
Rasanya gw ingin teriak : 
“Wahai semuanya, bapak2 ibu2, demi tuhan demi surga saya tidak memperkosa kunyuk ini. Dan sampai mati kejatohan tembok pas gempa pun saya tidak tidak akan melakukannya”


-bersambung-

Sunday, April 19, 2015

Tentang Pilihan

Gw mau tarik nafas dulu sebelum mulai menulis panjang lebar sambil duduk diatas bangku pesawat.

Hufff…. (sambil tutup hidung gara- gara tadi pagi lupa sikat gigi)

Sebelum gw menceritakan petualangan gw tadi pagi di bandara yang menguras jatah kalori satu hari, gw mau memberikan kabar gembira dulu nih. Intinya…

Gw akan menjalani internship di India!!!!!! yeyeyeyeye….(loncat2 didalam pesawat).

Sebenarnya rencana ini udah gw siapkan mateng2 semenjak satu tahun yang lalu, sejak gw gabung AIESEC di kampus. Pengennya sih ikut sebelum lulus kemarin, tapi karena sampai maret kemarin gw masih terikat kontrak beasiswa monbukagakusho, niat ini gw simpan untuk sementara. Setelah menjalankan matching dengan beberapa perusahaan di beberapa negara selama beberapa bulan, akhirnya gw ketemu yang paling pas dengan background dan passion gw. Ga tanggung- tanggung, tempatnya pun di negara ujung berantah yang waktu kecil gw cuma bisa liat dari televisi bareng nenek gw. Beliau emang suka banget nonton filem- filem aksyen dahsyatnya yang selalu menghadirkan inspektur macho (biasanya namanya Rahul atau Vijay) yang biasanya berhadapan dengan penjahat berkumis lebat dan bermata sebesar biskuit oreo: India!

Banyak yang bertanya sambil mengerutkan dahi, why should be India??

Well, gw cuma nimpalin: “Why? I dunno why but I know I’m on the right track ”

Friends, seperti yang gua tulis di post yang lalu, banyak yang bilang hidup itu tentang pilihan. Tapi bagi gw, hidup itu kayak beli fukubukuro , kita emang berhak milih, tapi yang kita bisa lihat dari pilihan kita itu cuma “bungkus”nya aja. Sementara dalamnya? Who knows what life gives us inside it?

Kayak gw, sebenarnya gw memilih untuk internship di Taiwan, Hong Kong, atau di asia tenggara aja yang deket2. Tapi nyatanya, saat gw kroscek-  kroscek, gw menemukan kalau ternyata internship di bidang gw itu sedikit banget, dan kebanyakan tawaran yang gw dapet dr negara- negara asia timur atau asia tenggara biasanya bergerak dibidang IT. Hampir menyerah setelah jungkir balik tujuh kali beserta kayang hingga sikap lilin mencari tempat magang yang pas, akhirnya hidup menunjukkan apa yang hendak ia kasih ke gua. Gw menemukan sebuah perusahaan India yang bergerak dibidang bioconsulting dan farmasi yang sedang mencari Japanese speaker.

Gw inget- inget apa yang gw mau lakukan nanti di masa depan. Mimpi gw adalah bekerja di sebauh perusahaan konsultan.  Kalau bisa di bidang gw, bioengineering atau biochemistry. Satu alasan utama yang membuat gua tertarik.
Then wait, I do speak Japanese as well.

So, why don’t I give it a try? Tanpa pikir panjang gw klik tombol apply. Setelah melalui seleksi berkas serta wawancara lewat skype,  mereka bersedia menerima gw. Dan akhirnya, jreng jreng, I accepted their offer.
Gw sempet merenung lagi, kalau dipikir- pikir, dibalik pilihan gw untuk ambil internship, hidup sudah merencanakan India buat gw, bukan Taiwan, bukan Hong Kong, ataupun Thailand.

Dan setelah beberapa kejadian menegangkan yang gw lalui tadi pagi di airport (gw janji akan tulis di post berikutnya), sekarang gw sedang berada 40000 kaki di atas daratan china menuju negeri dibalik pegunungan himalaya, sebuah negara besar multikutural dengan penduduknya yang terbanyak kedua sedunia.

And as I said many many many times before:


India, I’m ready to take every challenge you’ve prepared for me! ;)