Friday, June 28, 2013

ES dan iPS Cell


Kalau anda rajin mengikuti perkembangan teknologi terkini, khususnya di bidang biologi, terntunya ada tahu, tahun lalu, ilmuwan dari jepang bernama Shinya Yamanaka mendapatkan penghargaan nobel di bidang medikal atau psikologi. Bagi saya yang saat ini sedang belajar di fakultas life and environmental science di salah satu universitas jepang, nama Prof. Yamanaka hampir setiap hari saya dengan dengar. Berkali- kali para dosen disini bercerita dengan bangganya tentang beliau. 

Nah, disini saya mau bahas tentang cell iPS, atau Induced pluripotent stem cells, yang pertama kali diperkenalkan oleh prof Yamanaka sehingga beliau bisa memenangkan hadiah nobel.
Tapi sebelum membahas sel iPS, ada baiknya kita berbicara tentang sel ES terlebih dahulu. 

ES Cell 
Sel ES, atau Embrionic Stem Cell, adalah stem cell yang diperoleh dari massa dalam embrio (inner cell mass) saat embrio masih dalam tahap blastosis.
Stem cell, atau kalau menurut mbah wikipedia, bahasa indonesianya kita sebut sel induk, adalah sel dasar yg belum terdiferensiasi/terspesialisasi fungsinya. Nah, dalam teknologi ES cell, embrio yang telah difertilisasi secara in vitro (luar rahim) diambil massa dalamnya. Sel massa dalam embrio memiliki sifat pluripotent, dimana jika dikultur dengan sesuai kita bisa membuat sel tersebut terdiferensiasi menjadi sel yang kita inginkan.
Teknologi ES cell memicu masalah kode etik. Tidak sedikit yang berpendapat bahwa embrio yang digunakan dalam teknologi ES cell telah memiliki hak moral sebagai manusia, yang berarti dengan menghancurkan sel embrio kita bisa dianggap seperti membunuh satu nyawa manusia.

Teknologi ES cell 




iPS Cell(induced pluripotent cell)

Berbeda dengan sel ES, sel iPS menggunakan sel somatik yang telah di rekombinasi menjadi sel pluripotent. Maksudnya?

Hmm..jadi begini. Saat iPS belum ditemukan, cuma sel stem yang ada di embrio yang bersifat pluripotent yang dapat dikultur menjadi sel khusus yang terdiferensiasi. Sel somatik sebenarnya juga bukan sel pluripotent, karena sel tersebut sudah terdiferensiasi atau terspesialisasi menjadi sel yang telah mempunyai fungsi khusus. Namun, dalam percobaannya mengunakan tikus, dengan mediator berupa virus, prof Yamanaka mencoba memasukkan beberapa kode dna yang diduga berperan dalam proses pembaharuan/ rself-renewal pada sel stem ke dna dalam sel somatik tikus.

Dan hasilnya….jeeng jeng….

Ternyata sel somatic yang telah terdiferensiasi tersebut kembali menjadi sel stem! Dengan mengkultur cell stem yg dibuat dari sel somatic tersebut, seperti dalam teknologi sel ES, kita bisa membuat sel tersebut terspesialisasi menjadi sel yg kita inginkan. Bagi pihak yang kontra terhadap teknologi sel ES, penemuan sel iPS seperti angin segar karena teknologi ini tidak menggunakan embrio, yang berarti tidak berbenturan dengan kode etik.

]
iPS cell

Dengan penemuan ES cell maupun iPS cell, kita dapat dengan mudah membuat sendiri organ tubuh yg kita mau. Bisa dibayangkan betapa besarnya impact terhadap perkembangan di dunia kedokteran. Sekarang, para ilmuwan sedang gencar- gencarnya melakukan penelitian lebih lanjut mengenai iPS cell ini, yang masih memiliki kendala seperti lamanya waktu yang diperlukan dalam mengkultur sel. 

Bisa saja dimasa depan, saat dimana teknologi iPS telah dapat diaplikasikan secara real, penyakit- penyakit yang sekarang sulit disembuhkan karena rusaknya fungsi organ tertentu bisa diatasi dengan mudah.

Semoga saja…

2 comments: