Kalau anda rajin mengikuti
perkembangan teknologi terkini, khususnya di bidang biologi, terntunya ada
tahu, tahun lalu, ilmuwan dari jepang bernama Shinya Yamanaka mendapatkan
penghargaan nobel di bidang medikal atau psikologi. Bagi saya yang saat ini sedang
belajar di fakultas life and
environmental science di salah satu universitas jepang, nama Prof. Yamanaka
hampir setiap hari saya dengan dengar. Berkali- kali para dosen disini
bercerita dengan bangganya tentang beliau.
Nah, disini saya mau bahas
tentang cell iPS, atau Induced
pluripotent stem cells, yang pertama kali diperkenalkan oleh prof
Yamanaka sehingga beliau bisa memenangkan hadiah nobel.
Tapi sebelum membahas sel iPS, ada baiknya kita berbicara tentang
sel ES terlebih dahulu.
ES Cell
Sel ES, atau Embrionic Stem
Cell, adalah stem cell yang diperoleh dari massa dalam embrio (inner cell
mass) saat embrio masih dalam tahap blastosis.
Stem cell, atau kalau
menurut mbah wikipedia, bahasa indonesianya kita sebut sel induk, adalah sel
dasar yg belum terdiferensiasi/terspesialisasi fungsinya. Nah, dalam teknologi
ES cell, embrio yang telah difertilisasi secara in vitro (luar rahim) diambil massa dalamnya. Sel massa dalam
embrio memiliki sifat pluripotent, dimana jika dikultur dengan sesuai kita bisa
membuat sel tersebut terdiferensiasi menjadi sel yang kita inginkan.
Teknologi ES cell memicu
masalah kode etik. Tidak sedikit yang berpendapat bahwa embrio yang digunakan
dalam teknologi ES cell telah memiliki hak moral sebagai manusia, yang berarti
dengan menghancurkan sel embrio kita bisa dianggap seperti membunuh satu nyawa
manusia.
![]() |
| Teknologi ES cell |
iPS Cell(induced pluripotent cell)
Berbeda dengan sel ES, sel
iPS menggunakan sel somatik yang telah di rekombinasi menjadi sel pluripotent. Maksudnya?
Hmm..jadi begini. Saat iPS belum ditemukan, cuma sel stem yang ada di
embrio yang bersifat pluripotent yang dapat dikultur menjadi sel khusus yang
terdiferensiasi. Sel somatik sebenarnya juga bukan sel pluripotent, karena sel
tersebut sudah terdiferensiasi atau terspesialisasi menjadi sel yang telah mempunyai
fungsi khusus. Namun, dalam percobaannya mengunakan tikus, dengan mediator berupa
virus, prof Yamanaka mencoba memasukkan beberapa kode dna yang diduga berperan
dalam proses pembaharuan/ rself-renewal pada sel stem ke dna dalam sel somatik
tikus.
Dan hasilnya….jeeng jeng….
Ternyata sel somatic yang telah terdiferensiasi tersebut kembali menjadi
sel stem! Dengan mengkultur cell stem yg dibuat dari sel somatic tersebut,
seperti dalam teknologi sel ES, kita bisa membuat sel tersebut terspesialisasi
menjadi sel yg kita inginkan. Bagi pihak yang kontra terhadap teknologi sel ES,
penemuan sel iPS seperti angin segar karena teknologi ini tidak menggunakan
embrio, yang berarti tidak berbenturan dengan kode etik.
iPS cell
Dengan penemuan ES cell maupun iPS cell, kita dapat dengan mudah membuat
sendiri organ tubuh yg kita mau. Bisa dibayangkan betapa besarnya impact terhadap perkembangan di dunia
kedokteran. Sekarang, para ilmuwan sedang gencar- gencarnya melakukan
penelitian lebih lanjut mengenai iPS cell ini, yang masih memiliki kendala
seperti lamanya waktu yang diperlukan dalam mengkultur sel.
Bisa saja dimasa depan, saat dimana teknologi iPS telah dapat diaplikasikan
secara real, penyakit- penyakit yang sekarang sulit disembuhkan karena rusaknya
fungsi organ tertentu bisa diatasi dengan mudah.
Semoga saja…


Nice wrote!
ReplyDeleteHahha. Makasih paii :D
ReplyDelete