Ada yang pernah baca salah satu karya Dewi Lestari yang
berjudul Petir ? Diantara seri novel supernova, buku inilah yang paling saya
suka. Novel ini bercerita tentang
Elektra, biasa dipanggil Etra, seorang anak perempuan keturunan tionghoa, yang
tumbuh di lingkungan pribumi dan dididik seperti layaknya seorang pribumi. Disana
diceritakan bagaimana tidak enaknya si tokoh utama menjadi amfibi di dua dunia,
sering mendapat diskriminasi ketika berbaur dengan pribumi, namun sering “ga
nyambung” ketika berkumpul dengan saudara- saudaranya yang masih menerapkan
budaya tionghoa di kehidupan mereka.
Baru baca beberapa halaman depan pun saya sudah sadar
kemiripan tokoh utama dengan diri saya. Saya yang “dibilang” keturunan tionghoa hanya karena bermata sipit dan berkulit kuning,
pada dasarnya dibesarkan dilingkungan yang kental akan nilai- nilai
islam. Orang tua saya selalu menyekolahkan saya ke sekolah negeri. Bahkan saya
sempat disekolahkan di madrasah sore, karena orang tua saya merasa pelajaran
agama di sekolah negeri tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pendidikan agama
saya.
Tapi ternyata background islam yang ada dalam diri saya
tidak cukup untuk membuat saya “tidak berbeda” dari yang lain.
Maka jujur, kalau kita bicara diskriminasi, hal itu sudah sering
saya alami dari kecil. Saya tidak
bermaksud meng-generalisir, banyak teman- teman saya yang menerima saya apa
adanya tanpa menyentil satu isu pun tentang ras atau darimana saya berasal.
Namun tidak sedikit juga dari mereka yang memandang kalau saya seakan- akan
saya ini makhluk asing. Walaupun sudah terbiasa dan saya tahu itu cuma kelakar,
telinga inipun seperti teriris saat panggilan “cina” dilontarkan oleh orang-
orang sekitar.
Waktu kecil saya sering berpikir, apakah mereka
memanggil saya “cina” cuma karena mereka
semua berkulit cokelat dan bermata lebar sedang saya tidak? Bagaimana membuat mereka mengakui
kalau saya juga orang Indonesia?Apakah manusia memang sulit untuk menerima
perbedaan? Sebegitu rumitnyakah hidup sebagai orang yang berbeda di Negara kita
yang katanya berasaskan bhinneka tunggal ika?
Maka akhir- akhir ini, saya pun semakin geram melihat isu
SARA menghiasi berita politik tanah air. Disini saya menulis sebagai pihak
netral, tapi izinkanlah saya memberi satu contoh kasus nyata yang terjadi pada
pemilu kali ini.
Satu capres sempat dikabarkan bahwa beliau keturunan
cina, yang akhirnya menjadi berita hangat di sosial media. Terlepas betul atau
tidaknya, melihat besarnya animo masyarakat mengomentari isu tersebut, bisa
kita lihat ternyata pola pikir masyarakat kita masih terkungkung oleh persepsi akan
adanya perbedaan hak warga Negara antara yang mereka sebut “keturunan” dan
“pribumi”. Memang akhirnya terungkit kalau ternyata kabar itu cuma rekaan
belaka, tapi kalaupun itu fakta, apakah
kita harus setuju akan pernyataan bahwa seseorang tidak boleh menjadi pemimpin di negara ini cuma karena dia dianggap
“keturunan”? Apakah asal- usul sebegitu penting dalam memilih seorang pemimpin? Apakah kami
yang kalian sebut “keturunan” tidak memiliki hak yang sama untuk membangun
negara ini dibanding kalian yang menyebut diri kalian “pribumi"?
Faktanya, saya tidak memilih untuk dilahirkan sebagai keturunan,
dan kalian juga tidak punya hak meminta kepada Tuhan agar dilahirkan sebagai seorang
pribumi. Sama seperti kalian, diatas kertas saya adalah warga Indonesia, tumbuh
dibesarkan dengan nilai dan adat nusantara. Kampung halaman saya di atas tanah
jawa sana. Sejauh- jauhnya saya pergi, keujung dunia pun, pada akhirnya
kesanalah saya akan kembali. Sebab hati saya memang milik tanah air. Bukan
milik cina. Bukan milik bangsa manapun.
Dan saya pun yakin begitu juga dengan kalian.
Lalu mengapa
kita harus mengkotak-kotakan diri kita satu sama lain dengan tembok egoisme
akan dari mana kita berasal, walaupun kita tahu kita berdiri diatas bumi yang
sama? Mengapa kita musti membedakan siapa yang “pribumi” dan siapa yang “keturunan”
ketika kita sadar bahwa kita harus bersatu, bahu membahu, untuk membangun
negara yang kita cintai bersama, Indonesia?
Harapan saya, Indonesia beberapa tahun kedepan adalah bangsa
yang sepenuhnya merdeka, terutama merdeka dari belenggu pemikiran yang selama
ini menutup mata kita bahwa terlalu banyak hal yang harus kita benahi untuk
bangsa ini daripada menghabiskan waktu untuk berdebat tentang perbedaan dan darimana kita berasal.
Sebagai penutup, saya mau kasih satu kutipan bagus dari buku
“Freedom Writers Diary”, seperti ini bunyinya.
"I have always been taught to be proud of being
Latina, proud of being Mexican, and I was. I was probably more proud of being a
"label" than of being a human being, that's the way most of us were
taught.”
― Erin Gruwell,-
― Erin Gruwell,-
Salam Damai!

No comments:
Post a Comment