Beasiswa Monbukagakusho
Setelah 5 tahun lebih saya belajar di Jepang sebagai
penerima beasiswa Monbukagakusho, baru kali saya “menyempatkan” diri untuk
menulis tentang beasiswa yang saya terima selama ini hehe.
Saya ga tau sih jaman sekarang kayak gimana, tapi waktu
jaman saya dulu, untuk kuliah sederajat dengan S1 ke luar negeri itu lumayan
susah karena sedikitnya solusi yang tersedia. Nah, Monbukagakusho, atau mari
kita singkat, monbusho, adalah salah satu dari solusi yang sedikit tersebut.
Ayo Berburu Informasi!
Mengingat melanjutkan kuliah S1 di luar negeri termasuk
“jalan” yang tidak umum (setidaknya bagi SMA saya),informasi macam ini ga bisa
didapat gitu aja tanpa dicari sendiri oleh kita.
Ketika saya berniat untuk kuliah diluar, waktu itu langkah
pertama yang saya ambil adalah bertanya ke guru saya, apakah ada senior saya
sebelumnya yang keluar negeri, dan program macam apa yang mereka ikuti.
Kalau merasa informasi kurang cukup, nah saatnya kita
berguru sama mbah “google” hehe. Mungkin dulu informasi kayak gini sangat susah
karena keterbatasan media, tapi sekarang? Dengan internet ini mah bisa didapat
hanya dengan beberapa “klik”an aja.
Hasil dari perburuan informasi ini ada baiknya kita list.
Waktu itu saya buat daftar negara, jenis program dan beasiswa yang tersedia,
dan kapan kira- kira deadline untuk penyerahan aplikasinya.
Kenali kemampuan kamu!
Kedua adalah, kamu mesti tau kemampuan kamu itu sejauh apa.
Saya sadar saya ga jenius makanya saya ga coba- coba mendaftar Harvard atau MIT
(hahaha).
Biasanya ada dua hal penting yang perlu dijadikan bahan
pertimbangan : catatan akademis, dan kemampuan bahasa inggris kamu. Tiap negara
atau beasiswa mempunyai syarat minimum yang berbeda satu sama lain. Ketika kamu
mau daftar universitas di US atau inggris tentu kamu mesti tau mereka memasang
standard yang tinggi untuk bahasa inggris dibandingkan dengan negara lain,
misalnya korea atau jepang.
Nah kebetulan saya sadar betul dibandingkan temen2 saya
kemampuan bahasa inggris saya dibawah rata- rata (hiks), maka saya coret
beberapa negara atau beasiswa yang mengharuskan pendaftar mempunyai kapabilitas
bahasa inggris yang bagus. Waktu itu, dalam case saya tersisa beberapa solusi,
Malaysia dengan beasiswa Petronas-nya, Singapura dengan universitas NTU/NUS,
dan Jepang dengan Monbusho-nya.
Langkah berikutnya, saperti yang saya tulis diatas : kenali
kemampuan akademis kamu. Tiap beasiswa punya
standard sendiri. Ada yang mengharuskan nilai raport minimal 8 misalnya,
ada juga yang mengharuskan punya peringkat di kelas. Biasanya sih sebelum test
tertulis (kalau ada), pendaftar diharuskan kirim transkrip nilai dulu. Melalui
seleksi dokumen, yang mereka anggap “dibawah standard” tidak akan dikasih
kesempatan untuk melanjutkan ke seleksi selanjutnya.
Kenali bagaimana proses seleksinya
Itu aja belum cukup, kamu juga musti tahu, jika memang ada
test tertulis, mata pelajaran apa saja yang diuji dan bagaimana tingkat
kesulitannya. Diantara 3 daftar beasiswa yang saya tulis sebelumnya, Singapura
me”wajib”kan pendaftar minimal punya kemampuan sains A- level, terutama
Matematika. Dulu saya sempat mencoba belajar A- level untuk mencari tahu
bagaimana sulitnya soal2 tersebut. Alhamdulliah di SMA saya, beberapa alumni
yang sedang menuntut ilmu disana pernah datang beberapa minggu untuk mengadakan
“kelas khusus” A-level dengan biaya gratis untuk para junior yang mau kuliah di
Singapura. Saya pun mencoba datang ke kelas itu.
Tapi ternyata kemampuan Matematika saya tidak mencukupi dan
dengan waktu yang terbatas tanpa bimbingan belajar kayaknya agak sulit bagi
saya mengejar materinya. Sementara saya tahu betul seberapa mahalnya kursus2 a-
level yang ada di jakarta. maka dengan sangat terpaksa, saya coret singapura
dari daftar saya. Bye-bye mimpi saya belajar di bawah patung Merlion! *sambil
mengusap air mata*
Sekarang tinggal 2, Petronas dan Monbusho. Petronas sendiri
ternyata memiliki deadline kurang lebih bulan Maret untuk test dokumen (tanpa
test tertulis). Setelah saya kirim berkas ke kantornya untuk diproses ke
seleksi selanjutnya, saya mencoba fokus untuk beasiswa Monbusho.
Kenapa D3???
Beasiswa monbusho sendiri memiliki 3 macam program bagi
pendaftar lulusan SMA : S1, D3, dan D2. Ketiga program ini memiliki level
kesulitan yang beda2, dan mata pelajaran yang diuji pun juga ga sama. Waktu
jaman saya, pendaftar S1 diharuskan memiliki rata-rata raport dan ujian
nasional 84, sementara untuk D3 80 dan D2 77.
Waktu itu karena raport saya Alhamdulillah diatas 86 (nyombong
dikit boleh lah ;p), saya bisa bebas memilih program apa yang saya mau ambil.
Nah, tinggal cari tahu deh mata pelajaran apa yang diuji. Untuk S1, ternyata 3
pelajaran, matematika, kimia/fisika, dan bahasa inggris. Untuk D3, matematika
dan kimia/ fisika, dan untuk D2 matematika dan bahasa inggris.
Saya bukan tipe yang suka gambling dan maunya kalo bisa sih
yg gampang2 aja hehehe. Maka seperti yg saya udah bilang, karena bahasa inggris
saya itu hancur lebur, maka saya menghindari program yg ada test bahasa
inggrisnya. Dan pilihan itu jatuh ke D3.
Kebetulan kalau dilihat dengan standard nilai pun, melalui
program ini mungkin saingan saya juga ga berat2 amat. Saya membayangkan kalau
saya daftar s1, ga cuma orang2 yang sekedar punya nilai 84, tapi mungkin banyak
juga yang punya nilai jauh lebih tinggi
kayak 88 atau mungkin 90 (wuihhhhh
*jiper sendiri).
*jiper sendiri).
Mari latihan soal
Karena diantara
sekian banyak program, akhirnya saya cuma daftar 2 beasiswa dan yang ada test
tertulisnya cuma monbu aja, maka saya cuma mau kasih saran sedikit khusus untuk
ujian monbusho.
Buat kalian yang
lulus transkrip nilai, maka akan dipanggil untuk mengikuti test tertulis. Untuk
latihan, saya menganjurkan mending kerjakan soal2 tahun lalu yang bisa
di-download di website kedubes jepang. Dengan latihan soal, kita jadi tahu
kira2 materi macam apa yg keluar dan tingkat kesulitannya kayak gimana. Terus
buat yang bahasa inggrisnya odong-odong kayak saya, melalui soal2 ini kita jadi
terbiasa dengan vocabulary-nya, karena nanti soalnya dalam bahasa inggris.
Pengumuman test
tertulis biasanya sekitar September dan oktober (Saya kurang tahu mungkin aja
sekarang2 prosedurnya berubah. Silakan cek di websitenya. ). Waktu itu saya
kebetulan sedang menjadi mahasiswa ITB, dan lagi struggle2nya menyesuaikan diri
dengan lingkungan pendidikan disana. Kebetulan saya juga dipanggil untuk
mengikuti seleksi Petronas lebih jauh. Tapi karena waktu itu entah mengapa saya
sudah merasa mantap dengan beasiswa Monbusho, saya memutuskan untuk mengundurkan
diri.
Setelah mengikuti
proses wawancara, hasil akan diumumkan pada bulan Desember. Dan bagi kamu2 yang
lolos akan berangkat ke Jepang di bulan April.
Vertikal dan
horizontal
Sekarang saya ga
lagi ngomong tentang grafik hehhee. Melainkan tentang usaha kita. Kalau kalian
merasa udah mengeluarkan seluruh kemampuan kalian dan jurus2 andalan kalian,
maka yang kalian bisa lakukan selanjutnya adalah menyerahkan semuanya kepada
Tuhan. Banyak berdoa dan bersedekah. Buat yang islam, ibadahnya ditingkatkan
sedikit. Sering- sering salat dhuha dan kalau bisa bangun tengah malam untuk
Tahajud. Insha Allah kita akan mendapatkan apa yang kita mau kalau itu memang
yang terbaik buat kita.
Dan entah kenapa,
saya pribadi, saat sedang menginginkan sesuatu berdoa bisa berdampak lansung ke diri saya secara
psikologis. Dengan berdoa saya jadi dapat rasa optimis lebih karena saya yakin
Tuhan selalu ada buat saya. Dan dengan rasa optismis itu semangat juga akan
tumbuh. Semangat ini nih yang paling penting buat mewujudkan mimpi kita hheehe.
Udah deh
ngemeng2nya. Saya undur diri dulu.
Untuk post
selanjutnya saya akan cerita bagaimana program D3 saya berjalan. Stay tuned guys
J
No comments:
Post a Comment